Regenerasi Petani Terancam, Bambang Purwanto Desak Kementan Benahi Benih Unggul dan Serapan Gabah

Jakarta — Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi Partai Demokrat dari Daerah Pemilihan Kalimantan Tengah, Bambang Purwanto, S.ST., M.H., menilai rendahnya minat generasi muda untuk bekerja di sektor pertanian menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan pangan nasional. Menurut dia, persoalan regenerasi petani tidak dapat dilepaskan dari rendahnya produktivitas, keterbatasan benih unggul, kondisi irigasi, serta belum optimalnya kemampuan Bulog menyerap gabah petani.

Bambang Purwanto menyoroti semakin rendahnya ketertarikan generasi muda untuk melanjutkan usaha pertanian. Ia menilai kondisi tersebut bukan sekadar dipengaruhi anggapan bahwa pekerjaan sebagai petani kurang menarik, melainkan juga berkaitan dengan ketidakpastian pendapatan dan berbagai persoalan tata kelola pertanian.

Menurut Bambang, anak muda akan sulit tertarik menjadi petani apabila produktivitas dan kualitas hasil pertanian masih rendah. Persoalan itu semakin berat ketika jaringan irigasi belum berfungsi optimal dan hasil panen belum mendapatkan jaminan penyerapan pasar.

“Kalau produktivitas rendah, kualitas hasil juga rendah, irigasi belum optimal, Bulog belum siap menampung, wajar kalau anak muda enggan bertani,” kata Bambang dalam keterangannya pada 3 Januari 2026.

Ia mengungkapkan bahwa produktivitas pertanian masih berada di kisaran 5,2 ton per hektare. Pada saat yang sama, petani juga menghadapi keterbatasan benih unggul, penurunan kesuburan tanah akibat penggunaan pupuk kimia dalam jangka panjang, serta keterbatasan alat dan mesin pertanian.

Selain persoalan di tingkat produksi, Bambang menyoroti kapasitas pergudangan dan fasilitas pengering gabah yang dinilai belum memadai. Keterbatasan tersebut dapat menghambat kemampuan Bulog dalam menyerap gabah petani dalam jumlah besar ketika musim panen berlangsung.

Karena itu, ia meminta Kementerian Pertanian memperbaiki tata kelola sektor pertanian secara menyeluruh, mulai dari hulu hingga hilir. Perbaikan tersebut antara lain mencakup penyediaan benih unggul, pemulihan kesuburan tanah, rehabilitasi jaringan irigasi, keberlanjutan bantuan alat dan mesin pertanian, serta peningkatan kapasitas penyimpanan hasil panen.

Bambang menekankan bahwa upaya menjaga swasembada pangan tidak cukup dilakukan dengan memperluas lahan pertanian. Pemerintah juga harus meningkatkan kualitas produksi dan produktivitas setiap hektare lahan yang telah tersedia.

“Peningkatan produktivitas per hektare sampai kesiapan Bulog menampung gabah petani harus berjalan bersamaan. Ini bukan hanya soal swasembada, tetapi juga soal masa depan petani,” ujarnya.

Ia juga mendorong penggunaan bahan organik untuk memperbaiki lahan pertanian yang mulai mengalami penurunan kualitas. Salah satu langkah yang disarankan ialah mengintegrasikan pertanian dengan peternakan sehingga kotoran ternak dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik.

Menurut Bambang, peningkatan produktivitas harus berdampak langsung terhadap pendapatan dan kesejahteraan petani. Apabila pertanian mampu memberikan keuntungan yang layak dan memiliki kepastian pasar, sektor tersebut akan lebih menarik bagi generasi muda.

Penggunaan benih unggul, ketersediaan sarana produksi, kondisi jalan usaha tani, irigasi yang baik, bantuan alat pertanian, pendampingan, serta stabilitas harga gabah dinilai menjadi unsur penting untuk menjaga semangat petani.

Pernyataan Bambang memperlihatkan bahwa krisis regenerasi petani bukan hanya persoalan perubahan pilihan pekerjaan di kalangan anak muda. Persoalan tersebut juga menunjukkan adanya masalah struktural dalam rantai produksi pertanian, mulai dari kualitas lahan dan sarana produksi hingga jaminan pembelian hasil panen.

Tanpa pembenahan menyeluruh, rendahnya minat generasi muda untuk bertani berpotensi mengganggu keberlanjutan produksi pangan. Sebaliknya, peningkatan produktivitas, pendapatan, dan kepastian pasar dapat menjadi faktor utama untuk menghadirkan generasi baru petani Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *